Minggu, 19 April 2015

Aku Ingin.. Setidaknya, Ini yang Terakhir

Cukup lama tak membuka blog. Alah, sok sibuk. Padahal, paket internet yang sering dipake makin mahal. Ini mah cuma disempat-sempatin aja posting.

Malam tadi, kepikiran dan akhirnya sekarang di depan komputer dan mengetik apa yang dipikirin malam tadi.

Apa yoo.. Bingung memulainya..

Ah, gini deh.

5 tahun lalu, lupa tanggal pastinya, yang aku ingat bulan april. Kayanya, akhir bulan. Ada sebuah acara yang kita ikutin. Itu.. acara bimbingan belajar.. Itu.. yang di gedung serba guna Unlam.. Kalau mau diingetin sih, pasti panjang paragraf ini. Pokoknya acara itu.

Dimulai dari situ, terus kita daftar ikut bimbel. Aku masih ada tuh kuitansinya. Emang sih ya, mestinya sudah ditiadakan. Entahlah, mungkin nanti dibumihanguskan. Mungkin.

Sampai sini, aku bingung lagi melanjutnya bagaimana..

Serius, ini aku bingung. Mesti melanjutkan postingan ini atau ga.

Gimana sih, mau posting aja bingung.

Dan malah diomongin di sini.

-___-

 Ah sudahlah. Langsung ke inti dari kenapa malam tadi pengen bikin postingan ini.

Biarin deh, yang membaca postingan ini menganggap postingan ini ancur-ancuran.

 Daripada dipendam. Daripada rugi sudah beli pulsa buat bisa posting ini.

Aku ingin, kita lulus kuliah bareng. Dilematik, sebenarnya. Aku pribadi, ingin bulan depan lulus. Aku ga ingin september. Di sisi lain, aku menyadari, mungkin teman seangkatanku yang bisa lulus bulan depan ini hanya sebagian kecil saja. Bayangan aku, mungkin kurang dari 10 orang yag bisa lulus di bulan mei. Dan aku juga memahami kalau kamu juga menginginkan lulus di september karena kebanyakan teman-temanmu agak susah di mei.

Tapi gimana dong. Aku ingin kita lulus dalam hari yang sama. Setidaknya, ini yang terakhir. Selanjutnya, bismillah.. Aku berusaha biar bisa melupakan yang sudah-sudah. Dengan cara bekerja dan dengan cara menemukan perempuan lain yang bisa membuka gembok ini. Sulit juga sih, gemboknya sudah karatan. Kuncinya entah di mana. Tapi aku masih yakin, pasti ada yang bisa membuka.

Jika keinginan aku ini ga tercapai, jika aku dapat lulus di mei dan kamu menunda hingga september, aku berharap, kita ga bertemu di hari itu. Aku ga mau ketemu kamu di wisudaku. Meskipun, misalnya, seandainya, kamu datang ke gedung sultan suriansyah karena menemui temanmu yang lain, aku berharap tak melihatmu. Ga perlu diperjelas, apa alasannya.

Beda cerita kalau bisa bareng.

Jumat, 20 Februari 2015

Dalam Waktu 10 Jam..

Keinginan liburan memang sudah lama diimpikan. Setidaknya, setelah seminar proposal di tanggal 24 Januari lalu, kepengen banget travelling. Tapi karena selalu ada saja yang membuat gagal, jadinya baru kemarin terlaksana.

Awalnya, dari perayaan teman saya yang baru pulang dari Jakarta. Dia keterima bekerja di Bank Indonesia dan harus mengikuti pelatihan selama 5 minggu di Jakarta. Makanya, minggu kemarin, kami berkumpul, ngongkong bareng, dan merencanakan liburan.

Kebetulan, beberapa minggu lalu, saya menemukan sebuah postingan di facebook tentang suatu tempat yang cukup membuat saya ingin ke sana. Singkat kata, saya memutuskan untuk ke sana, kemarin.

Tapi, sayangnya, tidak semua teman-teman SMP saya yang hari minggu-nya nongkrong bareng, bisa ikut. Cuma satu orang. Mungkin ini semacam giliran. September tahun lalu, berempat travelling ke berbagai tempat yang tak terduga sebelumnya. Seperti, ketemu jalan yang di aspalnya bertulisan "lajui" tapi ternyata di depannya jalan buntu dan ke Tahura Sultan Adam yang sebenarnya tidak termasuk dalam rencana awal. Kemudian selanjutnya, Oktober bersama salah satu teman SMP ke Bukit Batas. Januari lalu, bersama salah satu teman SMP lainnya, ke Bukit Lintang. Dan kemarin, bersama salah satu teman SMP selain kedua tadi, ke bukit sebelah Dermaga Riam Kanan (saya tidak tahu namanya, tapi ada yang nyebut dengan nama Bukit Aranio). Dan semoga selanjutnya, bisa berempat!

Btw, ini traktiran oleh teman saya yang baru pulang dari Jakarta itu. :D
Oke, kembali ke cerita hari kemarin.

Kamis pagi, diawali dengan hujan. Hal yang memang saya tidak inginkan. Rencananya, pukul 6.00 Wita berangkat. Tapi karena hujan, dan hujannya cukup awet yang jika ditunggu hingga reda, mungkin ga bakal berangkat. Pukul 8.00 Wita, saya dengan teman SMP dan dua temannya tempan SMP saya berangkat. Dan waktu itu masih gerimis. Sesekali di perjalanan, kami merasakan hujan yang cukup lebat. Maklum, kami penggendara kendaraan bermotor roda dua.

Saya tidak tahu, apakah pantas atau tidak saya sebut ini kesialan pertama. Kejadian yang tidak saya inginkan, terjadi. Di pal 16, ban belakang kendaraan saya, "tertusuk dengan tidak sengaja" paku di jalan. Karena waktu itu, cuacanya masih hujan sulit menemukan tukang tambal ban (padahal sepanjang jalan ada tulisannya "tambal ban"). Di pal 17, baru ketemu. Tapi, ketemunya di seberang jalan. Yaa, saya harus melewati bundaran pal 17 terlebih dahulu kemudian kembali ke arah tukang tambal ban.

Setelah selesai, kami berangkat kembali. Oh ya, supaya saya tidak diceritakan terus menerus, yang pasti, sepanjang perjalanan kami, hujan terus turun. Sampai ke Dermaga Riam Kanan pun masih hujan. Beberapa kali, kami harus berteduh. Dalam perjalanan menuju Dermaga Riam Kanan, kami sempat tersesat. Mungkin, ini faktor hujan yang cukup lebat makanya kurang fokus dengan jalannya.

Singkat cerita, sampai ke Dermaga Riam Kanan, sekitar pukul 11.00 Wita. 3 jam diperjalanan, yang seharusnya cuma memakan waktu sejam hingga sejam tigapuluh menit jika dalam keadaan tidak hujan. Sesampainya, kami langsung cari tempat makan untuk makan dan minum yang hangat-hangat. Setidaknya, dapat mengurangi rasa dingin di sepanjang jalan.

Sekitar pukul 12.00 Wita kami bergerak ke bukit yang hendak didaki. Keadaan saat itu, masih gerimis. Dan, kali ini, nyasar kembali. Lumayan juga kesasarnya, tapi syukurnya ketemu jalan yang benar menuju puncak bukitnya. Sebelum mendaki, menemui acil. Acil ini adalah acil yang memiliki kebun durian di bawah bukitnya. Sempat ngobrol yang intinya tentang apakah sebelumnya ada yang mendaki ke atas. Dijawab sidin, ada. Sidin juga masih ingat orang-orang yang naik ke puncak bukit yang sebelumnya saya tunjukan foto mereka dari ponsel saya.

Tepat azan zhuhur, kami mendaki. Seperti dengan pendakian sebelumnya, jaket yang saya pakai kemarin juga saya lilitkan di pinggang saya. Pertiga pendakian, saya baru sadar, kalau jaket saya sudah tidak ada lagi di pinggang saya. Sama sekali, saya tidak merasakan kapan jaket saya terjatuh. Rute pendakian yang cukup melelahkan, membuat saya enggan putar balik. Maka saya putuskan setelah turun dari puncak, baru saya cari jaketnya. Saya yakin, bisa menemukan karena waktu itu cuma kami berempat yang mendaki. Tidak ada orang lain. Dan saya juga yakin, meskipun kami seperti membuka rute pendakian karena tidak terlihat jelas jalur pendakian sebelumnya, tapi teman SMP saya telah memberikan tanda yang menandakan jalur pendakian kami.

Pemandangan dari atas bukit yang didaki.
Singkat kata, saya kehilangan jaket yang saya beli di Jakarta pas Jakcloth tahun 2013 lalu. Jaket yang sering saya pakai. Jaket kesayangan telah hilang. Saya tidak tahu, di mana terjatuh. Dugaan saya, jaket saya jatuh waktu saya mendaki kemudian jaketnya jatuh ke jurang. Setelah turun, saya kembali berusaha naik ke atas lagi untuk mencari jaket saya itu. Dua kali saya berusaha naik. Yang pertama, saya tergelincir di tanjakan pertama. Yang kedua, saya juga tergelincir di tempat yang sama dengan yang pertama. Dan ini hampir saja saya tergelincir ke jurang. Kejadian hampir jatuh ke jurang ini, membuat saya, "ya sudah, saya ikhlaskan jaket itu".

Sekitar pukul 16.30 Wita, kami pulang. Sebelumnya, beristirahat sebentar di "gubuk"-nya acil yang punya kebun durian. Kami beli durian sidin dan kami suguhi kopi dan diberikan rambutan.

Diperjalanan, satu lagi kejadian yang sebenarnya tidak termasuk masalah besar tapi saya ceritakan di sini biar kesannya lengkap. Rantai kendaraan saya kendor. Syukurnya, setelah merasakan kurang enak dalam mengendarai, langsung ketemu sebuah bengkel kecil.

Pukul 18.00 Wita, kami sampai ke tempat asal, di rumah teman SMP saya. Dalam waktu 10 jam, dengan berbagai kejadian yang tak terduga. Dari ban mocor, nyasar, hingga jaket hilang. Sampai ke puncak dengan jalur pendakian yang menurut saya, lebih sulit daripada jalur pendakian yang telah saya lalui sebelumnya, juga sebuah kejadian yang tak terduga. Jalur pendakiannya lumayan susah. Kami harus mencari jalur pendakian sebelumnya dan sesakali kami harus membuka jalur tersendiri. Badan saya lebih besar daripada ketiga teman saya juga membuat saya mengalami kesulitan dalam mendaki. Saya selalu yang paling belakang. Sepanjang pendakian yang saya pikirkan, "harus sampai puncak! harus sampai puncak!" yang padahal teman-teman saya yang lain beberapa kali menanyakan saya "sampai sini aja atau lanjut?".

Dalam waktu 10 jam yang semoga menjadikan saya, orang yang lebih baik lagi.

Minggu, 25 Januari 2015

Sekedar Diingat dan Diabadikan, Agar Abadi pula Ingatannya

Alasannya, mau ngambil pesanan kartu uno.

Dua orang yang pernah dekat, ketemuan.

Dua jam ketemuan.

Dua tempat yang disinggahi.

Dua jam diperjalanan.

Perjuangan sekali.

Cuma mau ketemuan.

Kalau dipikirkan lagi, kok bisa ya.

Padahal sedang Kuliah Kerja Nyata.

Sempat-sempatnya, berpikiran buat ketemuan.

Kalau dipirkirkan lagi, kok berani sih.

Padahal jalan yang ditempuh melalui jalan yang tidak mudah.

Apalagi jalan menuju pulang ke lokasi desa KKNnya.

Sepi, gelap, hujan lebat, dan jalannya rusak.

Lengkap.

Itu dulu.

Dan setidaknya, pernah.

Sabtu, 24 Januari 2015

Lega


Saya yakin, setiap hari akan menjadi sejarah dan akan tersenyum-senyum jika mengingat hari-hari sebelumnya. Hari kemarin, jika diingat lagi, pasti ada hal lucu. Hari kemarin, jika diingat lagi, pasti ada hal yang menyebalkan. Hari kemarin, jika diingat lagi, pasti ada hal yang melegakan. Dan hari kemarin sudah menjadi sejarah. Hanya dapat dingat-ingat, tak bisa diulang lagi.

Begitu juga hari ini.

24 januari 2015. Sedikit hal lucu, cukup menyebalkan, tapi sungguh melegakan.

Karena hanya sedikit hal lucu, jadinya kejadian lucu tidak saya ceritakan di sini. Saking sedikitnya.

Apa yang membuat cukup menyebalkan?

Dari kemarin, yang saya takutkan mengenai hari ini bukan saja tentang bagaimana eksekusi pencabutan kesusupan (dibaca “seminar proposal skripsi”), tetapi juga ketakutan jika terjadi sesuatu yang hal yang tak terduga. Dan ternyata benar.

Dari awal, saya memang berkeinginan menggunakan aplikasi selain microsoft powerpoint diwaktu seminar. Saya ingin berbeda. Saya menggunakan aplikasi prezi. Maka dari itu, saya membuat bahan presentasi di aplikasi prezi. Walau sederhana, tapi setidaknya berbeda. Oke, untuk urusan presentasi sudah. 

Karena di laptop teman saya ini tidak ada aplikasi prezi, makanya perlu diinstall jauh-jauh hari. Oke itu lancar.

Akan tetapi..

Sejam hingga detik-detik eksekusi pencabutan kesusupan, saya dan teman saya dipusingkan oleh laptop. Padahal, laptop ini sering digunakan jika ada presentasi di kampus. Singkat kata, permasalahannya adalah layar di laptop ngeblank tapi di layar proyektor LCDnya ada. Saya kurang tahu, istilahnya. Dan saya tak mengerti penyebab dan solusinya. Hingga pada akhirnya, kedua dosen pembimbing saya datang dan presentasi dimulai. Saya hanya dapat menatap ke arah layar proyektor LCDnya disaat presentasi berlangsung. Dan itu hal yang tak terduga terjadi. Cukup menyebalkan.

Syukurnya adalah, teman yang laptopnya saya pinjam ini ada di saat saya ekeskusi pencabutan kesusupan. Padahal, rencananya dia mau menemanin ibunya yang di tempat lain sedang sidang tesis. Tanpa dia, mungkin keadaannya semakin parah lagi. Terimakasih @NopriyadiH yang telah menyediakan laptopnya, yang telah ikut pusing dan telah berusaha mencarikan solusi mengenai permasalahan laptop itu yang pada akhirnya masih bisa digunakan untuk presentasi. Terimakasih juga @Erwin_VOA yang telah bersedia ikut menyiapkan tempat eksekusi pencabutan kesusupan saya dan juga ikut pusing gara-gara permasalahan laptop. Tanpa kalian, mungkin rasa leganya tidak lebih besar daripada ini. Selanjutnya, jika kalian punya permasalahan di waktu mencabut kesusupan, tentu saya akan bantu semaksimal mungkin.

Iya, saya lega mengenai eksekusi pencabutan kesusupan ini. Lega, karena saya adalah orang kedua yang kesusupannya telah tercabut d jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 2011. Lega, karena rasa gugup yang terjadi kemarin telah sirna. Lega, karena saya dapat mempresentasikan aplikasi selain microsoft powerpoint. Lega, karena secara garis besarnya proses pencabutan kesusupan sukses. Alhamdulillah.

Ternyata, bukan itu saja yang membuat hari ini melegakan. Ada satu hal lagi. Dan ini sungguh melegakan.

Alkisah, karena saya menggunakan paket internet di ponsel saya always on, jadi saya tidak bisa mengunggah foto di akun instagram saya. Makanya, saya beli kuota internet. Tujuannya, sebenarnya cuma mau mengunggah sebuah foto mengenai proses pencabutan kesusupan siang tadi. Tapi selain itu, gara-gara saya beli kuota internet, semua display picture yang ada di kontak BBM bermunculan. Mungkin ini permasalahan yang terjadi juga di ponsel lainnya. Ketika saya hanya menggunakan paket internet always on dan kuota internetnya telah habis, kemudian ada yang mengganti DPnya, maka yang terjadi di ponsel adalah hanya ada layar putih tanpa foto di DP. Cukup lama, kontak BBM saya tanpa foto di DP. Saya sungguh tidak mempermasalahkan hal ini. Yang penting bagi saya, masih bisa menggunakan BBM.
 
Singkat kata, ada dua DP yang berbeda di kontak saya yang membuat saya lega. Dua DP ini merupakan orang yang sama. Dia mempunyai dua akun dan saya berteman kedua akunnya. Kedua DP itu sebenarnya dua foto sederhana. Tapi saya mengerti, arti kedua DP itu. Sungguh, saya lega.

Seharusnya, perasaan lega ini telah ada sejak pertengahan september 2010. Tapi, selalu tidak bisa dan akhirnya bisa di hari ini. Perasaan yang memang seharusnya saya miliki, akhirnya saya miliki sekarang ini.

Kalian berdua,cocok!

Meskipun saya baru kenal kamu oktober 2009, kemudian kita dekat januari 2010, lalu kita merenggang di september 2010, saya tahu dia memang sahabatmu. Saya tahu, kalian berdua memiliki kesamaan hobi, kesamaan kegilaan, dan walau saya tidak mengenal dia, tapi saya merasa kalian berdua cocok. Perasaan ini bahkan sudah saya rasakan sejak beberapa waktu lalu, entah sejak kapan pastinya.

Saya tahu, setelah september 2010, kamu telah dekat dengan beberapa laki-laki. Dan dari sekian itu, baru kali ini saya merasakan lega karena kerenggangan kita dulu itu. Saat inilah, akhirnya saya lega karena kita sudah tidak dekat lagi. Kamu dekat dengan laki-laki ini telah membuat saya lega. Sebelum yang ini? tidak.

Indikasi sederhanya kalau saya sudah lega adalah saya ingin suatu saat nanti, kamu, dia dan saya (mungkin juga perempuan yang dekat dengan saya), kita nonton bareng, kita makan bareng, kita nongkrong bareng tanpa ada perasaan tidak ikhlas dari saya yang mengiringi, tanpa ada perasaan canggung. Oh ya, sore tadi kan ceritanya aku mau "meracuni" kamu dengan foto-foto pemandangan di atas bukit, itu tujuannya bukan hanya mengajak kamu, tapi juga dia.

Ini terlalu cepat atau apa ya, tapi ini benar dari perasaan saya, tanpa mengada-ngada. Jika kalian sukses menjaga keadaan ini, saya yakin kalian bisa menjadi pasangan yang halal. Saya pribadi, mengharapkan demikian.

Akhirnya, saya bisa berkata seperti itu tadi. Meski hanya melalui postingan di blog, saya merasa sungguh lega.

Rabu, 07 Januari 2015

Selasa, 06 Januari 2015

[Kumpulan Foto-Foto] Bukit Lintang, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan

Ini hanya sekedar mengunggah foto-foto saat saya ke sana. Setidaknya, sudah dua kali saya ke sana. Yang pertama, bersama teman dan adik sepupu. Sedangkan yang kedua, teman dan kedua temannya.

14 Desember 2014.




 



3 Januari 2015

 



 


Di mana? Maaf, di postingan ini tidak ada akan dijelaskan keterangan lokasinya secara lengkap. Sekedar ingin "menyimpan" foto-foto di blog. :)

Minggu, 30 November 2014

6-9 Desember 2013

Ini cerita tahun lalu. Secara singkat, ceritanya sudah ada di postingan Terimakasih, Tahun 2013. Postingan ini cuma ingin berbagi cerita dan supaya daya ingat saya tentang peristiwa-peristiwa di 6-9 Desember 2013 serta sebelum tanggal itu, tidak cepat hilang. Jadi, kalau suatu saat nanti saya lupa, jadinya bisa baca postingan ini. :D

Jauh sebelum 6-9 Desember 2013, pertenggahan Juli, bertepatan bulan ramadan, saya dan teman sekampus saya (@seint8), berkeinginan travelling ke Pulau Jawa. Sebenarnya sih, sejak lama sudah kepengen banget jalan-jalan nyeberang pulau. Saya pribadi, sudah lama tidak ke Pulau Jawa. Terakhir, 11-12 Mei 2011. Semoga setelah postingan ini, ada postingan 11-12 Mei 2011. Tergantung suasana hati.

Kembali tentang 6-9 Desember 2013.

Seperti yang sudah saya sampaikan di postingan Terimakasih, Tahun 2013, 6-9 Desember 2013 itu saya memperoleh tiket promo pesawat. Kalau Anda suka travelling, tentu sudah tahu promo mana yang saya peroleh. Pulang-pergi Banjarmasin-Jakarta cuma Rp110.000. Jadi, sekali terbang, cuma Rp55.000 aja. Dan itu sudah termasuk biaya bagasi 15 Kg. Murah kan? Makanya, bagi saya, perlu ada postingan ini untuk mengingat dan menyimpan ingatan-ingatan yang berhubungan dengan 6-9 Desember 2013.


Buktinya
Testimoni
Di postingan Terimakasih, Tahun 2013, sudah saya sampaikan, pengennya sih sendirian ke Jakarta selama 4 hari 3 malam itu. Tapi karena saya adalah anak tunggal dan orang tua agak khawatir anaknya ini kenapa-kenapa di Jakarta, jadinya abah saya ikut. Tapi, abah saya membeli tiket dengan harga normal. Mungkin, inilah pengorbanan orang tua kepada anaknya.

Sebelum mendapatkan tiket promo itu, sebenarnya ada niatan bersama @seint8 untuk ke Pulau Jawa dengan menggunakan kapal laut. Kemudian, karena ada promo itu, jadinya kami tidak jadi. Sebenarnya, saya juga ingin mengajak dia untuk bareng ke Jakarta, tapi karena alasannya tanggal berangkatnya pas kuliah, jadinya dia tidak ikut. *ini kalau urangnya membaca, pasti kehimungan nih*

Kembali lagi ke cerita 6-9 Desember 2013.

Kira-kira sebulan sebelum saya dan abah saya ke Jakarta, saya sudah gencar mencari tahu tentang bagaimana saya dan abah saya hidup selama di sana. Dari tentang penginapan, rute transjakarta, dan tempat-tempat yang ingin saya tuju. Karena abah saya ikut cuma sebagai pendamping, jadi ngikut aja. Syukurnya, sekarang informasi-informasi yang semua tentang itu, dengan gampang diperoleh. Cukup googling. Dari hasil googling itulah, saya memperoleh tempat penginapan yang bagi saya murah dan dekat ke tempat-tempat yang saya ingin tuju. Sedikit review tentang penginapan kami, ada di Terimakasih, Tahun 2013.

Jadi, sebelum berangkat, tempat-tempat yang saya ingin tuju adalah:
1. Parkir Timur Senayan. Itu tujuan utama. Bahkan, memang sengaja memilih 6-9 Desember 2013 karena untuk ke sana. Yap, 5-8 Desember 2013 ada acara Jakcloth Year End Sale.
2. Kota Tua. Lebih spesifiknya lagi, Museum Fatahilah. Kenapa? Karena sudah 3 kali saya ke Jakarta, dan saya belum pernah ke sana. Memang sih, 3 kali ke Jakarta itu bukan murni liburan. Yang pertama, ke Jakarta ngikut tetangga. Yang kedua, dalam rangka tur wisata religi. Yang ketiga, hmmm.. nanti deh diceritakan di postingan selanjutnya. Hehe.

Cuma 2 tempat itu yang benar-benar saya tuju. Untuk ukuran 4 hari 3 malam, mungkin itu terbilang sedikit. Sengaja, jadi sisanya terserah kaki mau kemana nantinya pas di Jakarta.


Apalagi yaa.. Kayanya cukup cerita-cerita sebelum 6-9 Desember 2013. Saatnya, ceritanya per hari.

6 Desember 2013.

Hari itu adalah hari jumat. Jam keberangkatannya pukul 15.50 Wita. Dan, pagi harinya, pukul 8.00-10.00 Wita saya ada kuliah. Setelah kuliah, saya langsung pulang. Sekitar, pukul 11.15 Wita saya sudah berada di dalam taksi bersama abah saya dan dua tas ransel menuju ke Bandara Syamsuddin Noor. Pasti berpikiran, "cepat amat ke bandara". Iya, sampai di bandara, saya juga berpikiran seperti itu. Maklumi saja, kami baru pertama kali berpetulangan sendiri. Agak parno kalau ketinggalan pesawat. Alhasil, sesampainya di bandara, sekitar pukul 12.00 Wita dan kami jumatan di masjid bandara.

Bandara Syamsuddin Noor Banjarbaru
Setelah jumatan, jadinya kami hanya duduk-duduk sambil menantikan keberangkatan. Ada insiden kecil di saat itu. Saya kehilangan sarung kameranya @seint8. Iya, saya minjam kamera digital dia. Tapi belakangan, pas di Jakarta, malah lebih sering memakai kamera ponsel saya. Maafkan saya, teman. *maginnya kehimungan urangnya*

Sempat bingung, karena tidak ada informasi tentang "kapan kami bisa masuk ke dalam bandara". Jadinya, dengan sedikit insting dan memperhatikan orang-orang yang masuk ke dalam, sekitar pukul 14.15 Wita, kami masuk ke dalam untuk check in. Ini adalah tahap pertama kami menuju "kemandirian dalam berlibur".

Sekitar satu setengah jam kami menunggu di ruang tunggu, ada pengumuman kalau pesawat kami siap untuk diterbangkan. Dan benar, setelah dicek di jam tangan, pukul 15.50 Wita pesawat kami terbang. Tepat waktu!

Ini adalah pengalaman saya ketiga naik pesawat. Yang pertama, samping tempat duduk saya adalah mama saya. Yang kedua, samping saya adalah perempuan yang baru dikenal beberapa jam sebelum berangkat dan orang dari "sponsor konser musik". Jadi, selain pengalaman ketiga, ini juga pengalaman pertama terbang bersama abah. Kalau abah saya, ini pengalaman kedua. Yang pertama, pas abah dan mama saya terbang menuju Arab Saudi pas musim haji.

Sebelum take off
Secara garis besar, di dalam pesawat, cukup tenang dan tidak ada permasalahan yang berarti. Permasalahan malah terjadi terhadap saya pribadi. Saya bermasalah dengan gigi saya yang banyak berlubang. Belakangan, saya baru tahu, kalau gigi berlubang akan berdampak dengan kebisingan yang terjadi pas di dalam penerbangan. Lumayan sakit pada telinga saya.

Pesawat semakin mendekati wilayah DKI Jakarta. Sang kapten memberikan informasi, kalau di Jakarta, ada hujan lebat. Dan terbukti, kami mendarat dalam keadaan hujan lebat. Syukurlah, pendaratannya mulus.

Negeri di atas awan
Saya agak lupa kapan persisnya kami mendarat, tapi yang pasti, setelah kami keluar dari ruang kedatangan Bandara Soekarno-Hatta, tempat yang pertama kami tuju adalah musshola yang terletak di depan terminal 1c. Seingat saya, kami salat ashar di sana. Yang saya ingat persis adalah, kami naik bus damri menuju Stasiun Gambir sebelum azan maghrib berkumandang. Mungkin, sekitar pukul 18.00 Wib.

Ini di ruang tunggu bus damri
 Sekitar pukul 19.00, kami sampai di Stasiun Gambir. Kemudian kami berlanjut ke Jalan Jaksa, tempat kami menginap. Tahukah kami menumpang apa? Bajaj! 20 menit dalam bajaj, sampailah kami di Jalan Jaksa. Oh ya, saya belum memberikan gambaran keadaan cuaca saat itu. Intinya, dari saya mendarat di Bandara Soetta sampai kami di Jalan Jaksa, keadaannya masih hujan.


Bajaj kami
Karena kami pertama kali berada di Jalan Jaksa, jadinya kami minta dijemput oleh pemilik penginapannya. Kami ketemuan di salah satu minimarket yang terkenal. Ah, yang pasti minimarket ini belum ada di Banjarmasin dan kemungkinan hadir di Banjarmasin juga kecil. Karena ini minimarket "internasional".

Pukul 19.40, kami sudah berada di dalam penginapan. Sayangnya, saya tidak ada foto keadaan di dalam penginapannya. Tapi saya merekomendasikan penginapan ini. Review singkatnya ada di postingan Terimakasih, Tahun 2013.

Di postingan Terimakasih, Tahun 2013, saya sudah menceritakan, kalau saya ke Jakcloth itu ingin menonton Pee Wee Gaskins secara langsung. Sayangnya, ternyata jadwal mereka tampil adalah hari kedatangan saya di Jakarta. Sebenarnya, masih keburu sih, tapi saya putuskan tidak ke Jakcloth pada malam itu. Alasannya, karena kami baru pertama kali berada di Jakarta berdua, tanpa ada rombongan lain, jadinya agak takut dengan pulangnya. Takut kalau tidak ada angkutan umum yang masih beroperasi. Karena prediksi saya, kalau pulang dari situ, mungkin sekitar pukul 22.00 Wib. Dan sedikit penyesalan, ketika di malam terakhir saya di Jakarta, saya pulang dari Jakcloth sekitar pukul 22.30 Wib, dan masih ada angkutan umum. Ya sih, angkutan umumnya berbentuk taksi. *bukan taksi kuning* *ini benar-benar taksi*

Karena malam pertama kami tidak ke Jakcloth, jadinya kami keluar dari penginapan sekitar pukul 20.00 Wib dengan tujuan Bundaran HI. Kaki kami ngasal aja, melangkahnya. Sambil mengingat jalan-jalan yang kami lalui. Suasanya, masih dalam keadaaan gerimis. Kami melangkah hanya mengikuti jalan besar yang mengarah ke Jalan HM Tamrin. Singkat kata, sampai di Bundaran HI sekitar 30 menit berjalan kaki. Lumayan jauh juga.

*padahal ada fotonya, tapi kualitas fotonya tidak pantas untuk diposting, jadinya diurungkan untuk memposting foto di saat di Bundaran HI*

Sudah puas melihat  Bundaraan HI dan lampu-lampu di gedung-gedung di sekitaran Bundaran HI, kami kemudian pulang ke penginapan sambil mencari makan. Terakhir makan, seingat saya sebelum berangkat ke Bandara Syamsuddin Noor. Jadi sudah hampir 10 jam tidak makan. Kalau ngemil, selalu.

Kami mencari nasi goreng pinggiran jalan. Sengaja sih, biar tahu rasanya gimana rasanya nasi goreng di pinggiran jalan di Jakarta. Lupa nama jalannya. Soal rasa, enak. Harga? Standardlah. seporsinya, 12 Ribu sudah dengan tes hangat.

Dan jalan pulang kami tidak sama dengan jalan perginya. Sebenarnya, itu agak kesasar sih. Tapi, karena ada google map, jadinya kebantu banget. Dengan jalan yang dilalui berbeda, setidaknya jadi tahu dengan suasana di berbeda jalan. Jadi, jangan takut kesasar pada waktu travelling, selama ada google map, ataupun jika tidak ada, selama ada orang-orang lain di sekitaran kita, kita bisa bertanya kepada orang-orang tersebut. Dan jika tidak juga orang lain, jangan panik. Nikmati aja, kesasar itu. Kesasar adalah bentuk takdir untuk mengenal jalan baru untuk kita. Kalau tidak pernah kesasar, berarti kita tidak pernah juga mengenal jalan-jalan yang belum pernah kita lalui sebelumnya. Selama kita bisa berpikiran positif, pasti akan ketemu kembali jalan yang benar.

Dengan bantuan google map dan insting, sekitar hampir pukul 22.00 Wib, kami sampai di penginapan. Lumayan juga, yang dilewati jalannya. Tempat-tempat yang di Banjarmasin tidak ada, tapi pas di sana, kami lewati. Salah satunya, tempat yang diizinkan secara legal, menjual beer. Kalau di Banjarmasin ada sih, tapi kalau di sini tempatnya layaknya tempat hiburan malam, kalau di sana, layaknya tempat nongkrong.

Oh ya, kami belum mandi selama di Jakarta. Jadi, sesampainya di penginapan, kami mandi. Kalau di rumah, pakai selang, kalau di penginapan pakai shower. Haha.

Cerita 6 Desember 2013nya diakhiri dengan tidur kedinginan. Maklum, tidak terbiasa tidur dengan AC dalam keadaan hidup.

7 Desember 2013.

Pagi sekali, saya bangun. Sekitar pukul 4.00 Wib saya terbangun, karena mendengar rekaman suara ngaji di masjid. Ini kalau di rumah, ga bakalan kebangun, meskipun di dekat rumah ada mussola.

Hari itu, kami keluar dari penginapan pukul 6.00 Wib. Memang sengaja menikmati, "bagaimana sih suasana paginya di Jakarta?". Dengan rute yang berbeda lagi dengan malam tadi, kami menuju ke jalan HM Tamrin dengan arahan pemilik penginapan sebelum kami berangkat.

Di perjalanan, kami singgah dulu ke minimarket yang kalau diartikan "tujuh sebelas" untuk mengisi perut. Enak juga, roti yang dijual di sana.

Selalu suka dengan foto ini :D

Jakarta masih sepi
Lagi, ini pertama kalinya ke tugu Monumen Nasional tanpa rombongan. Sebenarnya, ingin naik ke tugu Monas, tapi sepertinya tidak bisa. Entahlah, saya tidak tahu alasannya. Mungkin karena ada acara kirap kereta kencana pada waktu itu. Ini sebuah keberuntungan yang pertama. Kami datang di saat ada acara seperti itu.

Kereta kencana
Setelah puas berkeliling kawasan Monas dan sempat beli mie cup berserta kopi yang harganya liwar dilarangi, kami putuskan ke Kota Tua sekitar pukul 8.00 Wib. Pengalaman pertama kami naik transjakarta, diwarnai teguran dari petugas transjakarta. "maaf, ini untuk khusus wanita. Untuk pria di belakang". Gara-gara ini, setiap naik transjakarta lagi, tidak pernah masuk dari pintu depan.

Kayanya ga sampai 20 menit, sudah sampai di Kota Tua. Halte transjakarta di Kota Tua cukup merasa saya terkagum-kagum. Keren aja, mesti lewat terowongan untuk keluar dari halte itu.

Sempat bingung, setelah keluar dari halte. Malah kesasar ke Pasar Asemka (waktu itu tidak tahu nama pasarnya, tapi sekarang jadi tahu setelah googling). Kali ini, tidak menggunakan google map, jadinya murni menggunakan insting sekaligus menikmati keadaan tersesat itu.

Mungkin sekitar 30 menit kesasar, baru ketemu Museum Fatahillah Tempat yang sebelum itu hanya bisa melihat dari layar televisi, sekarang berada di sana. unfortunately, saat itu Museum Fatahillah di renovasi. Yah, jadinya rencana mau masuk ke museum itu gagal. Tapi tidak apa-apa. Setidaknya, sudah pernah ke Kawasan Kota Tua.

Di sudut Kota Tua
Entah antara karena terlalu bersemangat untuk liburan dan malas memotret, jadinya hanya sedikit foto saat kami di kawasan tersebut. Namun, sebelum ke tempat selanjutnya, kami menyepatkan untuk masuk ke Stasiun Kereta Api di sana. Suka banget dengan arsitektur bangunannya. Bangunan lawas yang masih terjaga, keasliannya.

:D
Sejam puas di sana, kami putuskan untuk ke tempat selanjutnya. Ke Parkir Timur Senayan. Ke Jakcloth. Sebenarnya, itu kepagian sih ke sana, tapi ya gini deh kalau rencana masuk ke museum gagal.
Sekitar pukul 10.30 Wib, kami sudah berada di Senayan. Wow, dari halte sudah kelihatan stadion yang dibanggakan-banggakan itu. Stadion Gelora Bung Karno. Tempat di mana, kalau pas Timnas Indonesia main di situ, dan kita yang melihat di layar televisi, kita merinding melihat antusias penontonnya. Terlebih lagi, pas menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ah, suatu saat saya harus berada di sana disaat Timnas Indonesia berlaga!

Selanjutnya, harus masuk ke dalam!
Karena masih dirasa kepagian untuk masuk ke Jakcloth, jadi kami keliling-keliling di Senayan. Yang jelas, hampir seluruh sudut Senayan, sudah kami kelilingi. Hingga pada akhirnya, karena cuacanya yang cukup hot, pukul 11.30 kami masuk ke salah satu mall untuk ngadem. Awalnya, saya ga ngeh, tapi setelah masuk, ternyata di dalam mall itu ada teater JKT48.

Ga terlalu rami
Sekitar sejam setengah kami menikmati suasana dalam mall. Setelah membeli sabun mandi (iya, 2 kali mandi di penginapan kami mandi tidak menggunakan sabun mandi) dan roti dan minuman yang kalau di Banjarmasin juga merupakan tempat favorit saya untuk membeli roti.

Mungkin, jika tidak salah, tepat pukul 14.00 Wib, kami masuk ke Jakcloth. Saat itu, suasana tidak terlalu penuh dengan manusia-manusia pencari diskonan. Booth pertama yang saya tuju adalah Damn! I Love Indonesia. Selain, memang teman saya ada yang nitip baju D!LI, saya juga mau beli kaos polo di situ. Selanjutnya, ke booth Void, di sana saya membeli windbreaker straight edge. Itu adalah merch pertama saya yang berbau sXe. Beranjak ke booth selanjutnya. Yaitu, ke booth Shinning Bright. Tempatnya lumayan jauh dari booth pertama dan kedua tadi. Pas nyampe di boothnya pun, ternyata barang-barangnya belum ada. Sempat nunggu. Dan, ketika sudah ada barang-barangnya, booth dibuka. Penuh dengan manusia-manusia yang ingin beli produk SB. Penuh banget. Hampir aja, barang yang diinginkan teman saya masih ada. Ya walaupun, anggapannya itu adalah barang sisa. Soalnya, baru banget dibuka, sudah diserbu oleh manusia-manusia. Jadinya, kebagian sisanya aja.

Saya cuma membeli dua produk, satu kaos polo dan satunya lagi windbreaker di sana. Sedangkan, ada dua teman yang nitip beliin. Satu orang nitip kaos raglan, satu orang nitip topi dan longsleeve. Sebenarnya, masih kepengen belanja-belanja, tapi faktor sudah kelelahan dan memang dari Banjarmasin hanya inginkan dua produk itu, jadinya setelah semua produk sudah dibeli, kami beristrirahat di Kawasan Jakcloth itu.

Cukup lama kami di sana. Pokoknya, kami salat maghrib pun di sana. Memang, saya menunggu penampilan Killing Me Inside waktu itu. Kalau di rundown, katanya pukul 19.30 Wib. Jadinya, setelah salat, kami langsung menuju panggungnya. Ternyata, tidak sesuai dengan rundown. Ah, singkat kata, karena malas menunggu ditambah lagi takut kalau pulangnya tidak ada anggkutan umum, jadinya kami putuskan untuk pulang saja. Oh ya, saya belum menggambarkan suasana manusia di sana. Parah! Penuh banget. Faktor malam minggu sih. Ditambah pula, band-band yang tampil di malam itu, cukup beragam.

Singkat kata, sekitar pukul 21.00 Wib, kami sudah berada di halte transjakarta Sarinah. Iya, halte Sarinah adalah halte transjakarta terdekat dari penginapan saya. Hanya 15-20 menit dari penginapan. Sebelum ke penginapan, kami makan malam dulu di salah satu tempat makan cepat saji di Sarinah.

Pukul 22.00 Wib, kami sudah di penginapan. Ah, pengalaman yang luar biasa di hari itu. Luar biasa menyenangkan dan melelahkan. Mungkin sebuah kesalahan juga, karena saya menggunakan sepatu. Dan sepanjang hari itu, kami kebanyakan jalan kaki. Jadinya, kaki agak kaku selama hari itu. Selanjutnya kalau ada kesempatan travelling lagi, membawa sandal adalah sebuah pertimbangan.

8 Desember 2013.

Yeah, ini hari minggu. Memilih pulang di hari senin, karena saya ingin merasakan suasana car free day di Jakarta. Sama seperti di hari sebelumnya, kami keluar dari penginapan di hari itu sekitar pukul 6.00 Wib. Dan lagi, kami melalui jalan yang baru lagi. Tidak sama dengan sehari sebelumnya. Kali ini, kami memilih jalan yang menuju Stasiun Gambir. Masih menggunakan insting tanpa google map, akhirnya sampai juga di sana. Mengapa ke Stasiun Gambir? Karena kami ingin mempertimbangkan, apakah keesokkan harinya cukup berjalan kaki saja atau menggunakan bajaj lagi menuju Stasiun Gambir. Setelah sampai, maka dipikir-pikir lebih baik besok menggunakan bajaj saja. Dengan mempertimbangkan, barang bawaan. Kalau cuma berjalan kaki tanpa membawa barang bawaan, berjalan kaki lebih dianjurkan.

Setelah dari Stasiun Gambir, maka kami putuskan ke kawasan Monumen Nasional. Banyak manusia di sana. Tidak cuma sekedar berfoto-foto, tapi juga menjadikan lapangan kosong di sana menjadi tempat bermain mereka. Ah, asik banget! Coba aja, di Banjarmasin ada tempat seperti itu, pikir saya di selama di sana.

Banjarmasin harus ada tempat seperti ini!
Karena sehari sebelumnya, merasakan kaku pada kaki karena terlalu sering berjalan kaki dan terkesan terburu-buru, hari itu kami berjalan lebih santai. Hingga siang, kami hanya berkeliling di sekitaran Monas. Sesambil juga, jajan makanan yang jarang ada di Banjarmasin. Termasuk kerak telor? Tidak. Padahal, banyak orang yang menjual makanan khas Betawi tersebut, tapi dengan alasan "muka penjualnya ga ada muka betawinya", jadi kami belum pernah makan kerak telor di Jakarta. Kalau di Banjarmasin sih sudah pernah.

Satu diantara jajanan yang hingga sekarang masih pengen untuk mencicipi adalah es selendang mayang. Oh ya, saya belum bercerita, kebanyakan jajanan yang saya beli di sana, berbentuk es. Faktor keadaannya yang panas dan juga memang belum pernah mencicipi sebelumnya. Selain es selendang mayang, es doger juga saya coba. Sebenarnya ada satu lagi, tapi lupa namanya. Dari semua itu, es selendang mayang yang paling pengen beli lagi.

sumber: http://ensiklopediaindonesia.com
Tentang car free day di Jakarta, saya pribadi kagum. Meskipun jam telah menunjukkan 11.00 Wib, tapi jalan HM Tamrin masih ditutup untuk kendaraan bermotor. Padahal, sudah jarang orang yang berolahraga di jalan tersebut. Kalau dibandingkan dengan car free day di Banjarmasin, di sini namanya saja car free day tapi car tidak free di day minggu. Satu sisi, jalan ditutup untuk orang yang berolahraga, satu sisi jalan dibuka untuk kendaraan bermotor. Terlebih lagi, car free day di Banjarmasin hanya sampai di pukul 7.30 Wita. Kalau lewat, jalanan sudah dibuka kembali seperti normal. Mungkin banyak hal yang menyebabkan. Satu diantaranya, memang kesadaran masyarakat Banjarmasin untuk berolahraga kurang. Dan dari pihak Pemerintah Kota-nya juga tidak terlalu memperdulikan prihal tersebut. Mengenai car free day di Banjarmasin, saya sudah pernah membuat postingan tersebut. Yaitu, Car free day di Banjarmasin, katanya..

Car free day di Jakarta
Kembali ke Jakarta.

Hari semakin siang, azan zhuhur juga sudah berkumandang. Maka kami beranjak ke Masjid Istiqlal. Sebelumnya, saya juga pernah ke sana, tapi dalam rangka tur religi. Waktu dulu, hanya sekedar tempat salat maghrib, jadi setelah selesai, langsung ke tempat yang lain. Kalau sekarang, kami meraskan liburan yang sesungguhnya. Iya, karena kami berjalan kaki menuju ke sana. Karena berjalan kaki itulah, kami jadi bisa melihat istana merdeka. Karena berjalan kaki itulah, kami jadi bisa melihat gedung-gedung pemerintahan lainnya. Karena berjalan kaki itulah, kami jadi tahu di mana SMP 4 Jakarta berada, yang sebelum kami berangkat, heboh dengan video mesumnya.

Di dalam Masjid Istiqlal
Setelah dari masjid terbesar di Asia Tenggara itu, kami kembali ke kawasan Monas. Sempat terpikir, mau ke Ancol, tapi karena waktu itu halte depan Masjid Istiqlal ditutup, jadinya tidak jadi. *padahal tidak yakin juga, kalau dibuka lalu bisa ke Ancol melalui halte tersebut*

Semakin rame di kawasan Monas. Penyebabnya adalah akan ada pawai kereta kencana dari berbagai daerah di Indonesia dan dari kerajaan luar negeri. Terlebih lagi, akan ada gubernur DKI Jakarta di dalam kereta kencana tersebut. Iya, gubernur. Dulu. Sekarang, presiden Indonesia.

Singkat cerita, pawai itu berlangsung meriah. Setelah menyaksikan pawai tersebut, kami kembali lagi ke Masjid Istiqlal untuk salat ashar. Nah, setelah salah inilah, saya pribadi galau. Mau pulang ke penginapan atau ke Jakcloth lagi. Akhirnya, diputuskan untuk ke Jakcloth kembali. Ini seiring rasa iri saya terhadap teman saya yang sehari sebelumnya menonton band favorit saya di Banjarmasin. Rocket Rockers tampil di Banjarmasin sehari sebelum di Jakcloth. Jadi, rencanaya, ke Jakcloth cuma mau nonton Rocket Rockers. Ah, persetan dengan angkutan umum. Ini malam terakhir di Jakarta, jadi harus bisa nonton Rocket Rockers. Dengan semangat itu, setelah hujan reda, kami langsung bergegas ke halte transjakarta menuju Senayan. Oh ya, waktu itu, setelah keluar dari Masjid Istiqlal, hujan lebat. Syukur, kami masih bisa berteduh di salah satu tenda di kawasan Monas. Sempat basah kuyup, tapi tak apalah.

Sesampainya di Halte Senayan, kami langsung masuk ke Jakcloth. Perlu diketahui, sekali masuk ke Jakcloth waktu itu Rp20.000. 2 hari, Rp40.000. Dan karena saya ke sana bersama abah, jadinya Rp80.000 habis hanya untuk masuk ke Jakcloth.

Suasana di dalam, padat. Lebih padat daripada sore kemarin. Sebenarnya, Rocket Rockers tampil di malam hari, tepatnya menjadi penampilan terakhir di salah satu panggung di sana. Kenapa jadi sejak sore saya ke Jakcloth, supaya tidak terburu-buru. Alhasil, sebenarnya saya baru menyadari pas di Jakcloth, kalau band favorit saya lainnya akan tampil di sore itu. Alone At Last!

Mereka tampil sebagai penampil sebelum break maghrib. Ah, gila! Ini pertama kalinya menonton band seatraktif ini. Yas Budaya, gila! Dengan membawa kabar, sore itu adalah penampilan Yas Budaya terakhir di Jakarta karena ingin keluar dari Alone At Last, penampilannya makin gila! Gila!

Cukup gila, gilanya. Sehabis menonton Alone At Last, kami ke tempat salat untuk salat maghrib. Karena tidak ada kegiatan lain, selain menunggu penampilan Rocket Rockers, jadi kami hanya berada di sekitaran panggung tempat mereka tampil. Ada beberapa band yang tampil sebelum Rocket Rockers. Satu diantaranya adalah Nath Thelion. Asik juga, reggae.

Akhirnya, band yang ditunggu-tunggu tampil. Mereka tampil dalam keadaan sedikit gerimis. Kalau tidak salah, mereka tampil pukul 21.30 Wib. Saya sudah tidak mempedulikan lagi bagaimana pulangnya. Yang penting bisa nonton Rocket Rockers.

Jadi, tidak jadi nonton Killing Me Inside di malam minggu, malah nonton Alone At Last dan Rocket Rockers di minggu sore dan malam terakhir kami di Jakarta.

Penampilan Rocket Rockers tidak diragukan. Meski saya pribadi, merindukan Ucay di sana. Ah, sudahlah. Penampilan mereka berempat juga keren. Terlebih disaat Aska menyanyikan lagu Fathin, asli gila!

Sekitar sejam mereka tampil, kami bergegas ke halte transjakarta sambil berharap masih ada transjakarta. Dan ternyata sudah tidak ada lagi. Kalau tidak salah, waktu itu sekitar pukul 22.30 Wib. Karena sudah tidak ada lagi transjakartanya, kami putuskan untuk naik taksi. Inilah ceritanya yang sudah saya sampai di beberapa paragraf sebelum ini. Ternyata masih ada taksi. Tahu gitu, malam pertama di Jakarta mungkin juga masih ada taksi yang menunggu.

Pukul 23.00 Wib, kami sampai di penginapan. Dan bersiap untuk packing buat pulang.

9 Desember 2013.

Jam keberangkatannya siang. Tapi, karena memang tidak ada lagi tempat yang ingin dituju, jadinya sekitar pukul 7.00 Wib kami mengasih kunci kamar kami ke pemilik penginapan lalu mencari bajaj menuju Stasiun Gambir. Layanya film-film Dono, Kasino, Indro, tidak perlu lama kami menunggu, ternyata ada bajaj yang lewat, langsung saja kami naik.

Sekitar pukul 8.00 Wib, kami sudah berada di dalam bus damri menuju Bandara Soekarno Hatta. Oh ya, saya tidak banyak bercerita tentang makan. Memang, hari pertama dan kedua saja, yang anggapannya "makan besar". Sisanya, hari ketiga dan hari terakhir hanya ngemil. Bukan masalah uang, tapi memang saya orangnya bukan yang suka makan, lebih suka ngemil. Abah saya? Karena saya begitu, beliau terpaksa juga sama. :D

Diluar dugaan, pagi itu jalanan begitu mulus. Tidak ada macet sama sekali. Padahal, salah satu ketakutan saya yang membuat bergegas menuju bandara adalah macet. Mengingat hari kami pulang adalah hari senin. Eh, ternyata tidak macet. Syukurlah.

Hanya memerlukan 45 menit di jalan, kami sampai di terminal 1C. Nah, setelah sampai ini, kami merasa menjadi orang yang terlantar di bandara. Karena masih perlu 4 jam sebelum pesawat kami take off. Supaya tidak terlalu merasa orang yang terlantar, kami berjalan-jalan. Dari terminal 1C ke 1A, terus kembali ke 1C lagi. Lumayan juga jaraknya. Pantas sih, disebut salah satu bandara terbesar di dunia.

Di ruang tunggu terminal 1C
Untuk menyingkat cerita (karena saya sudah cape ngetik), pukul 12.40 Wib kami terbang. Dan ini, tepat waktu! Oh ya, tempat duduknya saya ini adalah tempat duduk saya di saat Banjarmasin ke Jakarta. Tidak ada perubahan dengan tempat duduk saya. Yang berubah adalah abah saya. Tapi masih sejajar, tapi tidak di samping seperti sebelumnya.

Pendaratan berjalan mulus dan tepat waktu. Yang tidak mulus adalah telinga saya sepanjang penerbangan. Permasalahan di awal keberangkatan terjadi kembali.

Singkat kata, pukul 17.00 Wita, kami sudah berada di rumah kami lagi. Dan travelling pun berakhir sudah.

Selesai.

NB: tolong pijatkan jari-jari saya dong.