Minggu, 27 Mei 2018

Tahapan

Sekarang berada di tahapan, setiap selesai chat di wa dengan dia, selalu langsung dihapus. Sedikit berharap, itu balasan terakhir, dan tidak ada lagi kelanjutannya.

Aku merasa harus seperti itu. Aku punya ketakutan, jangan sampai sama cerita dengan di zaman sma. Kelamaan berharap sesuatu yang tidak harus diharapkan lagi. Efeknya ke diri sendiri juga. Dia tidak kembali, aku yang tetap gitu-gitu aja.

Kini, lagi bikin adonan agar rasa berharapnya hilang. Harus menyamakan dia dengan teman yang lain, tanpa ada harapan apapun.

Selasa, 01 Mei 2018

Bukan

Jangan berharap, karena bukan.

Kamis, 05 April 2018

Durasi Singkat, Berefek Lama

Satu jam yang lalu, ada Fourtwnty di Tonight Show. Seketika setelahnya, langsung mau nonton video ini lagi



"....keluarlah dari zona nyaman"

Zona nyaman kami bukan waktu santai, tapi waktu sibuk. Sibuk dengan segala urusan. Syukurnya, kami masih ada kepikiran untuk istirahat. Rutinitas hampir satu tahun dengan kegiatan bekerja, kami bayar tunai dengan berlibur bersama. Meski tidak panjang waktunya, tapi efeknya panjang.

Sekarang, video di atas bisa dijadikan video kenangan bagi pemeran di dalamnya. Singkat durasinya, tapi berefek lama.

Selasa, 13 Februari 2018

Canggung? Itu Efeknya

Random sekali yang dilakukan siang tadi. Melakukan sesuatu secara tiba-tiba. Aku juga terkejut. Kepikiran dan terlaksana dalam satu waktu. 

Lalu setelah itu, apa? 

Tidak ada. Setidaknya hingga ketikkan ini. Tidak ada.

Dan sekarang, mencoba agar seperti tidak ada apa-apa. Berusaha supaya apa yang sudah dilakukan seperti hal yang biasa saja. Random tapi biasa saja.

Kalau nantinya akan jadi canggung, mungkin itu efeknya. 

Minggu, 28 Januari 2018

Seperti Sama

Ada jutaan kejadian yang sudah dialami. Tapi ini seperti sama dengan satu kejadian di antara itu. Kurang paham. Kurang jelas juga. Tapi berasa sama.

Menunya beda. Tempatnya beda. Tapi rasanya sama.

Yang paling dihindari, cara melupakannya sama. Harus beda. Biar cepat ketemu rasa yang baru.

Sabtu, 30 Desember 2017

Rugi?

Setiap orang pasti pernah ketemu di satu titik, yaitu bingung. Bingung, mau maju atau mundur. Tidak ada petunjuk jalan. Tidak jelas.

Kalau mundur, akan terasa tanggung karena sudah sejauh ini perjalanannya. Sekeliling kita pun memberikan isyarat akan merugi jika mundur. Walaupun sebenarnya, itu hanya isyarat, bukan petunjuk yang sebenarnya.

Kalau maju, harus siap dengan segala risiko yang ada di depan.

Mundur pun, sebenarnya juga ada risikonya.

Sama-sama punya risiko.

Ini tidak seharusnya dibingungkan, karena ini masalah masa depan. Masa depan ada di depan, bukan di belakang. Mestinya yang diambil adalah langkah maju.

Tapi, tetap aja ragu-ragu.

Maju tapi ternyata tidak ada apa-apa, apakah itu akan disebut rugi?

Rabu, 27 Desember 2017

Ini Tentang Kesamaan dan Kebersamaan

Apakah untuk bersama harus memiliki kesamaan?

Perjalanan 4 hari yang baru saja dilalui, semoga bisa menjawab.

Dari empat orang yang berbeda-beda. Bahkan satu orang diantara itu ada yang belum pernah kenal dengan yang lain, untuk bertemu pun belum pernah. Dipertemukan hanya karena ada kesamaan. Sama-sama menginginkan liburan.

Apakah harus sesimple itu untuk bersama?

Kalau saya yang jawab, harus sesimple itu.

Karena memiliki kesamaan, maka bisa bersama.

Bahkan seharusnya, mungkin, tidak ada tuh istilahnya "perbedaan bisa membuat kita menyatu".

Padahal Indonesia ada karena banyak perbedaan?

Kenapa tidak dibalik saja, Indonesia ada karena banyaknya persamaan?

Persamaan untuk saling mendukung membuat negara. Persamaan untuk membangun negara. Persamaan untuk membuat negara ini lebih baik lagi.

Kayanya terlalu luas bahasan soal Indonesia.

Bagaimana dengan hubungan antar lawan jenis?

Haha, malah bahas ini.

Pembahasan yang mungkin tidak akan muncul jika tidak melakukan liburan bersama ini.

Liburan bersama ini bisa dikatakan liburan dengan persiapan yang terbatas.

Kepikiran melakukan liburan bersama sebulan sebelum keberangkatan. Kepastikan berangkat atau tidaknya, seminggu setelahnya. Kemudian selama tiga minggu berikutnya yang dibahas tentang akomodasi dan semacamnya, di tengah kesibukan masing-masing. Saking sibuknya, ada satu orang yang tidak pernah kumpul bareng buat membahas perjalanan ini, hanya selalu menerima kesimpulan via group whatsapp. Pas hari keberangkatan, barulah ketemu secara utuh, berempat.

Liburan bisa begitu, kenapa hubungan tidak bisa?

Modalnya, sama-sama ingin liburan. Cukup itu dan bisa terlaksana. Ya, dalam perjalanannya, memang pastilah ada kendala-kendalanya. Wajar ada dan harus ada untuk membuat perjalanan liburan lebih menarik ketika diceritakan kembali.

Mestinya, cukup sama-sama ingin bersama, maka akan terjadi kebersamaan. Apakah nantinya akan ada kendala-kendala? Pasti. Dan harus dilalui karena kembali lagi ke main pointnya, ingin bersama.

Untuk bersama, jelaslah ada yang dikorbankan. Seperti liburan ini. Yang paling terlihat, tentang materi. Tidak murah, liburan disaat peak season seperti libur natalan. Tapi apa yang dilakukan? Ya dikorbankan saja, karena keinginan untuk liburan lebih besar lagi.

Ada perlunya untuk direnungkan kembali, harusnya lebih mementingkan perbedaan yang jelas selalu dipunyai setiap orang atau mementingkan persamaan yang walaupun itu sangat kecil?

Menyatukan empat orang yang memiliki perbedaan karakter masing-masing, bisa disatukan karena hanya karena satu persamaan, sama-sama ingin liburan.

Sesulit itukah, menyatukan dua orang yang memiliki perbedaan pendapat tetapi sebenarnya, mungkin, kedua orang itu mempunyai keinginan untuk bersama?