Sabtu, 11 Agustus 2018

Kehabisan Basa Basi

Terbiasa dengan memulai dengan perbincangan yang basa basi. Dari situ berlanjut ke topik yang lain. Bisa berjam-jam chating padahal awalnya cuma basa basi.

Semenjak peristiwa itu, peristiwa mei lalu lanjut peristiwa pasca lebaran kemarin, tidak ada lagi basa basi seperti itu.

Semua tidak jauh, tentang pekerjaan. Selesai topik, maka selesai lah.

Basa basinya sudah mulai basi.

Tidak tahu, apakah ini yang terbaik?

Kalau aku, ku merasa bukan ini yang terbaik. Tapi, kalau diingat lagi tentang mei dan pasca lebaran, ah sudah malas. Selalu ada keyakinan, bukan kamu.

Walaupun, sebenarnya, sudah terbiasa dengan kamu.

Minggu, 05 Agustus 2018

Tentang Diperjuangkan atau Tidak

Jelas, perasaan kangen itu ada. Karena lama tak bertegur sapa, berinteraksi secara langsung. Wajar. Bukan hal yang aneh, kan?

Sebelum ketemu, dia sudah berencana akan melakukan sesuatu ketika bertemu. Sudah membawa yang akan dikerjakan. Sudah dipersiapkan.

Pertemuan ini disela-sela acara kantor. Acara kantor dimulai dari sore hingga malam. Kemudian dilanjutkan keesokan paginya sampai siang. Lalu pertemuan itu akan disudahi di sorenya.

Aku menawari diri dari siangnya, agar malam mengerjakan sesuatu itu.

Malam tiba. Dia sudah ngantuk.

Jadi, bukan soal ngantuk sebenarnya. Tapi soal, ya sudah, bukan hal yang harus diperjuangkan.

Minggu, 15 Juli 2018

Blog Bukan Tempat Curhat Lagi, Tapi..

Pasti gara-gara siang tadi tidur, yang akibatnya malam ini susah tidur.

Susah tidur jadinya pikiran ke mana-mana. Macam-macam yang dipikirkan. Campur aduk. Absurd.

Tentang pekerjaan.

Tentang hubungan.

Tentang kehidupan.

Semuanya.

Eh, mungkin ga semuanya juga ya. Tapi, ya begitulah.

Ini sebenarnya ga begitu niat bikin blog. Cuma bingung aja ngapain. Mau curhat di blog ini, kayanya ga deng. Seusia segini, blog bukan tempat yang pas lagi buat jadi tempat curhat. Mestinya, isteri tempat curhatnya.

Eaa..

Jumat, 15 Juni 2018

Ternyata, Belum Hari Ini

Setelah sebulan di bulan Ramadhan, hari ini bertemu 1 syawal lagi. Yap, seperti biasa lah. Sudah umum. Pertanyaan itu muncul lagi.

Tapi ada satu pertanyaan yang cukup mengelitik, selain soal kapan nikah, "gagal nikah ?" oleh salah seorang tetuha di keluarga saya.

Di bayangan saya pada tahun kemarin, 1 syawal di hari ini, seminimal mungkin, ada dua tempat yang akan dikunjungi. Mungkin statusnya belum resmi, tapi menuju resmi.

Ternyata, belum hari ini.

Kamis, 07 Juni 2018

#abislebarangantiprofesi

Tiga hari menjelang libur panjang lebaran, berkas mikro masih menumpuk. Semuanya menginginkan agar disegerakan. Kalau saya mampu, saya pun tidak mau ada tumpukan berkas. Saya pun ingin segera selesai tanpa ada yang tersisa. Tapi, saya ada keterbatasan. Sama dengan orang lain.

Jika saya memikirkan demi omzet, tentu gampang sekali. Semua pengajuan saya approve tanpa melalui tahapan yang cukup melelahkan, survey. Semua berkas yang masuk, seketika bisa langsung kembali ke outlet untuk bisa dilakukan pencairan kredit. Apapun dan bagaimana pun karakter nasabahnya, langsung diapprove. Kredit akan bermasalah? Tinggal klaim.

Tapi, saya bukan seperti itu.

Semenjak dulu, pertama kali menyalurkan kredit mikro di atas gunung, selalu ada unsur waspada. Penyaluran pertama di atas gunung dengan nasabah bukan pegawai internal, diawali ketika saya di sana.

Kini saya berada di kota. Yang luas. Yang beragam. Yang macam-macam. Yang random. Yang jelas berbeda dengan di atas gunung. Unsur waspada seharusnya semakin meningkat karena itu semua. Ditambah lagi, saya merasa ada tanggung jawab yang lebih dibandingkan dengan pada saat di atas gunung. Semua outlet yang di kota ini menjadi tanggung jawab saya. Cangkupannya lebih banyak. Wajar, saya harus lebih waspada.

Beberapa ada pengajuan yang saya tolak. Di sisi lain, saya juga memperhatikan omzet outlet. Tapi, bagaimana pun, saya punya hak untuk setuju atau menolak. Beberapa yang lain, ada pengajuan yang saya kelamaan tidak ditindaklanjuti, akibatnya nasabahnya menarik berkasnya. Ini yang namanya adanya keterbatasan saya sebagai manusia.

Semisal, selama sebulan ke belakang, pengajuan pembelian motor baru meningkat. Keterbatasan saya adalah, waktu. Saya mau semua pengajuan itu diproseskan. Tapi, tidak bisa semua dikerjakan. Jika dibilang, banyak hari libur, saya sudah berusaha agar disaat hari libur pun saya kerjakan. Semampunya saya kerjakan. Tapi, rasa lelah itu ada. Wajar.

Pembelian motor bukan sekedar pembelian. Tapi, semua proses harus saya kerjakan sendirian. Survey, scooring, hingga pembayaran ke dealer, saya. Ini bentuk keluhan? Iya, saya mengeluh. Tidak profesional? Mungkin.

Besok, sisa dua hari lagi sebelum libur panjang lebaran. Berkas-berkas itu masih banyak. Dan saya tidak sanggup. Berharap agar ada mutasi dan profesi saya berubah setelah libur lebaran nanti.

Minggu, 27 Mei 2018

Tahapan

Sekarang berada di tahapan, setiap selesai chat di wa dengan dia, selalu langsung dihapus. Sedikit berharap, itu balasan terakhir, dan tidak ada lagi kelanjutannya.

Aku merasa harus seperti itu. Aku punya ketakutan, jangan sampai sama cerita dengan di zaman sma. Kelamaan berharap sesuatu yang tidak harus diharapkan lagi. Efeknya ke diri sendiri juga. Dia tidak kembali, aku yang tetap gitu-gitu aja.

Kini, lagi bikin adonan agar rasa berharapnya hilang. Harus menyamakan dia dengan teman yang lain, tanpa ada harapan apapun.

Selasa, 01 Mei 2018

Bukan

Jangan berharap, karena bukan.